MAYANTARA.MY.ID
Pasien gagal ginjal kini memiliki alternatif terapi selain hemodialisis atau cuci darah di rumah sakit. Metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dinilai dapat menjadi harapan baru karena memungkinkan pasien menjalani terapi secara mandiri tanpa harus rutin datang ke rumah sakit.
CAPD merupakan metode dialisis yang dilakukan dengan memanfaatkan selaput rongga perut sebagai penyaring alami untuk membersihkan racun dalam tubuh. Proses ini dilakukan dengan memasukkan cairan khusus melalui kateter di perut, kemudian cairan tersebut diganti secara berkala setelah menyerap zat sisa dari tubuh.
Berbeda dengan hemodialisis yang biasanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam sepekan di rumah sakit, CAPD dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien di rumah. Metode ini memberikan fleksibilitas bagi pasien, terutama bagi mereka yang masih aktif bekerja atau memiliki aktivitas sehari-hari yang padat.
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, menyebutkan bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal di Indonesia masih langsung menjalani hemodialisis. Padahal, pilihan terapi lain seperti CAPD maupun transplantasi ginjal sebenarnya juga tersedia, namun belum banyak diketahui oleh pasien.
Dari sisi biaya, terapi CAPD juga telah mendapat dukungan dalam sistem jaminan kesehatan nasional. Pemerintah melalui BPJS Kesehatan menanggung kebutuhan terapi tersebut, termasuk logistik dan bahan medis yang diperlukan pasien selama menjalani pengobatan.
Para ahli berharap edukasi mengenai berbagai pilihan terapi gagal ginjal dapat terus ditingkatkan. Dengan informasi yang lebih lengkap, pasien diharapkan dapat menentukan metode pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan dan kualitas hidup mereka.
Red
